badminton
Badminton Indonesia sudah tiba di dasar laut...
Banyak orang menyesalkan bahkan hampir semua orang menyesalkan para pebulutangkis Indonesia yang kian lama kian terpuruk.. dan parahnya, sudah di dasar laut... bkn tenggelam lagi... Secara pribadi gw jg sedih banget ama pebulu tangkis Indonesia karena yang seperti kita tahu kalo bulutangkis merupakan olahraga utama negara kita dan sudah mengharumkan nama bangsa selama berpuluh2 tahun dan telah memperoleh kemenangan berkali2... Tapi apa yg terjadi? Sekarang, makin lama makin redup saja..
Katanya Indonesia sudah ada tanda2 akan mengalami keterpurukan di tahun 1998, tapi tidak ada yg memperhatikan sehingga tidak adanya antisipasi. Dulu, banyak sekali pemain bulu tangkis yg menjadi legendaris seperti: Susi Susanti, Alan Budi Kusuma, Rexy Mainaki, Ricky Subagdja, Tony Gunawan, Mia Audina, Rudy Hartono, Icuk Sugiarto, Iie Sumirat, Liem Swie King, Ardi BW, dll... Tapi ke manakah mereka semua? Sebagian sudah pensiun, tapi sebagian lagi? Sebagian pergi ke luar negri dan sekarang malah memperjuangkan kemenangan negara tempat mereka tinggal, bkn negara kelahirannya, Indonesia. (Mia – Belanda, Tony – USA, Rexy – Malaysia)
”Olahraga bukan saja membutuhkan tenaga, tetapi juga biaya.” Yg menjadi kendala utama adalah: Pemerintah kurang memperhatikan kelangsungan hidup para atlet, padahal mereka sudah berjuang keras untuk mengharumkan nama bangsa dan sudah bekerja keras berlatih setiap hari.. Akan tetapi, biaya untuk kehidupan mereka sangatlah minim. Akankah seluruh hidup mereka hanya bergantung pada profesi sebagai atlet ? Bagaimana kondisi mereka tua nantinya?
Gw dulu pnah ntn acara yg menampilkan kehidupan Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma sekarang. Mereka sekarang membuka usaha (toko apa gt gw lupa hehe, apa salon ya? lupa) pokoknya sejenis wiraswasta gt. Mereka juga menyetujui bahwa pekerjaan sebagai atlet gajinya kecil (intinya gitu hehe) Dan bisa kita liat kalo pemain unggul Indonesia juga pergi ke luar negeri demi mendapatkan kehidupan yg layak.
Faktor lainnya adalah sistem kepemimpinan PBSI yang pengorganisasiannya tidak jauh berbeda dengan tahun- tahun sebelumnya. Yang sudah dapat dipastikan hanyalah menampilkan pemain- pemain yg sama seperti Taufik Hidayat, Chandra – Sigit dan sejenisnya. Apakah tidak ada tunas- tunas muda yang berpotensi menjadi juara? (terutama untuk Uber) Gw melihat pas Jepang vs Indo, Jepang sebagian besar pemainnya masih sangatlah belia dan sangatlah berpotensi, bahkan Shoji Sato yg umurnya masih muda, mengalahkan Taufik. (btw, Shoji Sato lebih muda kan? hehe.. sotoy)
Memang saya akui kalo dulu Chandra – Sigit dulu kala permainannya sangatlah menonjol dan sudah menjadi legendaris (peringkat 3 dunia) akan tetapi lama – kelamaan saya amati, mereka tidak punya mental yg bagus, tidak konsisten, tdk dapat dipastikan menang.. Taufik juga sama, walaupun tekniknya bermain bulu tangkis sangat bagus akan tetapi menurut saya (maaf) agak terlambung predikat dunia yang dia raih menurut saya atas ”keberuntungan” sewaktu melawan Lin Dan di thn 2005. Menurut saya mentalnya pun kurang, tidak konsisten, berbeda dengan China yang benar- benar terobsesi dan tidak mau memberi kesempatan sedikitpun (Lin Dan).
Ciri khas pebulutangkis Indonesia adalah tidak bisa bermain lepas, stamina kurang (cepet capek), seringkali lengah, tidak konsisten, ketika skornya sudah jauh di atas lawan malah lengah dan sering melakukan kesalahan sendiri sehingga disusul oleh pihak lawan (mental kurang)
Seharusnya PBSI sadar dan malu, kalo Indonesia yang merupakan wilayah Asia sudah dikalahkan Denmark 2 x di tahun 2004 dan 2006, padahal Denmark adalah negara Eropa yg olahraga utamanya bukanlah badminton. Terlebih Uber, masuk pertandingan saja tidak. Selain itu jg, sewaktu Indo vs Korea dan Indo vs Jepang nyaris kalah, untung diselamatkan oleh Sonny dan Lulu – Alvent. Padahal kita tahu bahwa Jepang dan Korea sudah lama sekali tidak memperoleh kemenangan di dunia bulu tangkis. Hal ini juga dialami negara Malaysia yang tahun demi tahun mulai berbenah dan mulai menunjukkan kemampuannya di bulu tangkis dan terobsesi untuk menjadi juara juga, bahkan sekarang sudah sejajar peringkatnya dengan Indonesia. Namun menurut saya pribadi, kemampuan Indonesia agaknya di bawah Malaysia. Mengapa? Karena ketika di semifinal melawan Denmark terjadi perebutan angka yg sangat ketat dan tampaknya sama- sama tidak mau menyerah tapi akhirnya harus mengakui juga kemenangan Denmark. (3 – 2)
Solusinya, berdasarkan opini yg didapat, saya setuju kalau sebaiknya semangat yang dimiliki oleh pebulutangkis China juga dimiliki pebulutangkis Indonesia, saya juga mendukung adanya pembenahan dan perombakan total sistem yg selama ini dipakai PBSI, mungkin pergantian pemain, pergantian kebijakan, perubahan jadwal, peningkatan kualitas, pembentukan mental, dll... Serta merefleksikan pribadi masing- masing, dan bukan saling menyalahkan... Dan semua ini membutuhkan waktu yg cukup lama (bukan instan). Keberhasilan itu membutuhkan proses. Yah, kita harapkan saja di Piala Thomas dan Uber 2008 di Jakarta nanti akan lebih baik dari tahun ini. Duh, gw bisa nonton ga yah? Duhhh.....sebal..

2 Comments:
thanks for the insights. gue save ya...
Thomas Cup 2008: PBSI harus cari bibit baru
By didikbudiarto 0 Comments
Categories: Sports
Tags: Bulutangkis
Tempik sorak lebih dari 8000 penonton pendukung tuan rumah rupanya tak ada pengaruh buat Taufik Hidayat dan kawan-kawan. Mereka telah menyia-nyiakan kesempatan emas memenangi Piala Thomas selagi menjadi tuan rumah. Kemarin, jago-jago tepuk bulu angsa Indonesia itu kalah memalukan dari Korea dengan skor yang telak. 3-0
Menyedihkan, Indonesia kalah dari kekuatan bulutangkis yang dulu justru belajar kepada Indonesia. Apa yang salah dengan bulutangkis Indonesia?
Siang harinya, sejam sebelum kekalahan skuad Piala Thomas Indonesia, Malaysia juga dikalahkan oleh China. Bedanya mereka keluar Istora dengan kepala tegak. Malah para pemain Lee Chong Wei yang dengan gagah menaklukkan jago China, Lindan, kemudian Wong Choon Hann, Fairuzizan, Pelatih Kepala Yap Kim Hock dan Misbun Sidek, semuanya ketika saya wawancarai satu persatu, mereka tidak menyesali kekalahan karena mereka sudah melakukan perlawanan yang sengit. Skornya pun 3-2. Lawannya pun China, juara bertahan yang memang diakui oleh siapapun yang mengamati peta kekuatan bulutangkis dunia.
Di Media Center, saya sempat mengatakan inilah sebenarnya final yang sebenar-benarnya. Tak ada yang mampu membendung China, kecuali Malaysia. Sayang, perhitungan Malaysia bahwa mereka akan mampu mengamankan satu poin melalui ganda terkuat mereka, Koo Kien Kiet - Tan Boon Heong, meleset. Kalau tidak, bukan mustahil Malaysia akan melenggang ke final.
Kembali ke masalah bulutangkis Indonesia. Materi pemain yang itu-itu saja, nyaris tidak ada perbedaan dengan team Thomas Cup 2004 di Jakarta, dimana Indonesia juga kalah di semi final. Mungkin kita semua harus sepakat dulu, bahwa jago-jago Indonesia sudah perlu diremajakan. PBSI harus segera menemukan pemain-pemain baru. Yang muda harus segera disiapkan untuk menggantikan Taufik, Sony, dll. Malah sebenarnya, kalau pikiran itu baru muncul sekarang sudah terlambat. Negara lain sudah mengandalkan pemain-pemain muda yang mempunyai potensi luar biasa.
Indonesia masih sangat bergantung pada pemain-pemain yang sudah melewati masa puncaknya. taufik, Sonny, Candra Wijaya, dll. Jadi pertanyaan besarnya adalah bagaimana program pembinaan di PBSI? Program pencarian bakat yang tidak jalan.
Hampir tidak masuk akal dari 230 juta penduduk Indonesia kita bisa kehabisan stok. Tidak bisa dipercaya. Menemukan satu saja itu kebetulan anaknya Icuk Sugiarto, yang memang sudah tidak perlu dicari-cari. Jadi apa yang salah dengan PBSI?
Kita memang bukan lagi kekuatan utama bulutangkis dunia.
Didik Budiarto
Post a Comment
<< Home